Seberapa besarkah perasaan kagum Anda terhadap seseorang ?
Apakah Anda seorang fans dari band atau tokoh tertentu ?
Pernahkah anda nge-fans atau mengidolakan sesuatu ? tokoh politik mungkin, tokoh agama, artis, grup band atau apa saja. Saya yakin, tidak hanya Anda yg mengalami “syndrome kekaguman” saya dan yang lainnya pasti pernah mengalaminya diakui atau tidak, sadar maupun tidak sadar. Jika tidak mengalami gejala “ syndrome kekaguman “ itu pada konteks diatas, kita pasti pernah mengalami perasaan kagum yang teramat besar pada lawan jenis, kalau yang ini saya yakin semua pasti mengalaminya. Setiap orang pasti memiliki seseorang yang menginspirasikan dirinya dalam bersikap, berpikir, bertindak dan menjalani kehidupannya, seseorang yang dianggap mengandung unsur keterwakilan diri individu pasti akan menjadi objek yang dikaguminya. Seseorang yang punya pembawaan yang sangar, keras atau sangat maskulin akan cenderung mengidolakan tokoh yang mewakili karakter atau kepribadiannya itu, semisal aktor laga atau atlit. Begitu juga dengan yang lain hal-hal yang kita idolakan secara eksplisit menggambarkan seperti apa kepribadian kita.

Secara psikologis, kita semua punya kecenderungan untuk mencontoh apa yang kita lihat di dalam konteks keseharian kita, kecenderungan untuk mencontoh apa yang kita lihat adalah sebuah kecenderungan psikologis yang kita miliki semenjak kita lahir, misalnya kita melihat ibu menulis huruf a, lalu kita berusaha menulis huruf a seperti apa yang kita lihat. Proses duplikasi ini pada umumnya disertai dengan kesan positif (dalam konteks yang dialami kanak-kanak) sehingga kita pun secara refleks ingin mecontoh apa yang tadi kita lihat melalui beberapa tahapan yaitu yang pertama, indera kita menangkap bentuk, kemudian mengirim bentuk yang ditangkap tersebut sebagai dalam bentuk stimulus ke otak, otak kemudian yang selanjutnya memproses bentuk tadi menjadi bentuk yang “baru”.

Namun kali ini kita bukan ingin membahas tentang siapa yang Anda idolakan dan kenapa Anda mengidolakannya, disini saya hanya ingin mengajak anda untuk melihat suatu bentuk fenomena dimana ada diantara kita yang begitu mengidolakan seorang tokoh, tahu segala hal tentang tokoh tersebut mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Salah satu stimulus yang mendorong individu mengidolakan sesuatu selain dari faktor psikologis, juga amat dipengaruhi lingkungan dan media. Lingkungan turut membentuk mindset, kerangka pikir yang dijadikan acuan dalam membentuk persepsi dan penilaian terhadap sesuatu hal.
Disini ada sebuah kisah nyata
Namanya Sydney, usianya baru 12 tahun. Seperti abege pada umumnya, ia mulai rajin bercermin. Ia juga mulai pintar berdandan. Sydney ingin meniru gaya idolanya, yang sering dilihatnya melalui media.
Kebetulan, Sydney memang pernah bertemu langsung dengan bintang pujaannya itu. Bahkan sempat berfoto juga. Kisahnya, satu ketika ia diajak ibunya berbelanja di sebuah butik. Tak ada hujan dan badai, butik itu tiba-tiba ditutup. Sydney juga ibunya jadi terjebak di dalamnya.

Selidik punya selidik, rupanya akan datang seorang pembeli istimewa. Sydney girang alang kepalang, sebab tamu terhormat itu tak lain adalah Paris Hilton yang dikaguminya. Tentu saja ia tak melewatkan begitu saja kesempatan langka itu. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati Paris, sekadar meminta tanda tangan atau berfoto.
Beruntung, kata Sydney, semua yang diinginkannya kesampaian. “Aku malah sempat berfoto dua kali, soalnya hasil foto yang pertama jelek. Paris juga tidak keberatan mengulang sesi foto,” katanya. “Selain lebih cantik dibanding yang aku lihat di majalah, ternyata ia juga baik hati.”
Peristiwa itu membuat Sydney makin jatuh hati pada Paris Hilton. Ia tak akan pernah melupakan moment tersebut. Tak lupa, ia juga mengabarkan kenangan manis itu kepada siapapun. “Saya juga dikirimi fotonya,” kata Sherry Young, sang nenek, yang menulis artikel berjudul Addiction to Celebrities Simply isn’t Healthy.
Sherry menegaskan kegandrungan pada selebriti bukan monopoli Sydney, tapi dilakukan oleh banyak kalangan. Penyebabnya, kata Charlotte De Backer, juga sangat beragam. Pada tesis doktoralnya, psikolog dari Universitas Leicester itu menyebutkan, para selebriti itu adalah role model pada jaman kebudayaan populer.

Role Model yang dimaksud adalah sebagai sebuah patokan atau panutan, dalam kajian komunikasi massa, seorang publik figure bahkan punya kekuatan untuk mempengaruhi publik dengan “ kharisma” yang di milikinya. Ia bahkan dapat menyetir publik dengan opini-opininya dan pendapatnya, yang bahkan jauh lebih dipercaya daripada siapapun.
Oh iyaa! selain bentuk pengidolaan atau fans yang dilakukan secara individu, ada pula bentuk pengidolaan atau fans yang dilakukan secara kolektif, biasanya dalam kelompok-kelompok ini berupa sebuah kelembagaan resmi berbentuk klub atau organiasasi misalnya Baladewa (Fans Band Dewa 19), OI (Orang Indonesia,Fans Iwan Fals), Slankers (Fans Band Slank)

Mereka yang tergabung dengan komunitas diatas, pada dasarnya memiliki satu kesamaan yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak sekedar sebagai fans biasa, mereka ialah orang-orang yang teramat terobsesi dan teramat kagum dengan tokoh atau grup band idolanya, tidak jarang terjadi adu jotos ketika ada yang menghina grup pujaaan mereka.
Yang pasti mengidolakan atau sekedar nge-fans dengan sesuatu hal, apapun bentuknya pasti akan membawa dampak bagi diri individu.
Apapun itu …
Kita semua berhak punya idola …
Siapapun kita…
Dan ada satu pertanyaan yang mesti kita jawab sendiri,
ARE YOU A FAN OR AN IDOL …..?
Teks: Dody
Ilustrasi: www.colorsmagazine.com










