Bebas Bekerja Tanpa Batas

Notes from saya

Edisi 31 – Fanatik

January 10, 2010  /  saya  /    0

Saya Magazine - edisi 31 - photos

Saya Magazine - cover edisi 31 - Fanatik

Saya magazine – edisi 31- Fanatik

Pembaca SAYA, kata-kata ini saya kenakan pada diri saya sendiri dan pada mereka yang mengidolakan (idol) atau ngefan pada seseorang, maupun yang telah menjadi seorang idola. Idol akan ikut apapun yang dilakukan idolanya, sehingga lebih tidak masuk akal daripada sekadar fan. Idol pada tokoh spiritual, artist, atlet, pemimpin negara, dan masih banyak lagi yang lainnya. Selanjutnya bagi seorang yang telah menjadi idola harus menganggap idol or fan sebagai pribadi-pribadi yang memiliki martabat, bukan hanya sebagai kerumunan massa.
Jika saya mengidolakan seseorang bukan karena karakternya yang sabar lalu saya ikuti, bukan karena fisiknya ataupun sifatnya, bukan cara dia menyanyi di panggung atau cara dia menendang bola. Tapi yang saya ikuti bagaimana cara dia hidup dan gaya hidupnya, bagaimana dia mempersiapkan diri untuk tampil di panggung atau disiplin waktunya untuk berlatih menendang bola. Mengidolakan bukan tahu banyak hal tentang dia tanpa mengenalnya, dibutuhkan waktu untuk ‘mengenal’ sebelum saya dapat mengatakan, ‘saya mengidolakannya’. Melihat karya-karya idola, kagum dengan filosofi hidupnya, mengetahui kebiasaan atau merasakan kebaikannya dalam hidup saya, tidaklah cukup. Mengenal idola secara pribadi, menjalin keakraban agar bisa mengenal motivasi, pemikirannya atau pandangannya maupun isi hatinya lalu menerima gaya hidupnyadan menjalani serta melakukannya, itu jauh lebihpenting. Bukan hanya mengetahui yang dilakukannya, melainkan terlebih lagi mengetahui alasan ia
melakukannya.

Jika saya fan seseorang, saya tidak akan meniru supaya saya sama persis seperti dia, tapi iniartinya saya bukan fan. Demikianlah hemat saya
yang mungkin kurang tepat, karena fan beberapa orang bersedia untuk mengikuti dan meniru secara detail. Saat saya fan seseorang, sering kali saya hanya melihat penampilan luarnya saja, padahal bagian dalamnya sangatlah penting. Seharusnya saya bukan meniru untuk mengharapkan hasil yang sama dengan dia, menonton dia berulangulang, menyaksikan dia setiap saat terus menerus, mengikuti kisah cintanya atau kondisi fisiknya. Tapi yang harus saya lakukan sebagai fan adalah menanyakan pada diri sendiri bagaimana dia akan mengatasi masalah (misal:pernikahannya), bagaimana ia akan merespon persoalan atau karakter asli dalam dirinya seperti apa saat dia tidak berada di depan
fans? Sebab kualitas seseorang ditentukan oleh yang ada dalam dirinya, bukan hal-hal yang berada
di luar dirinya.

Jika sebagai idola saya harus ‘mengenalkan’ diri kepada perorangan bukan secara massal tetapi secara pribadi-pribadi, namun sering kali saya berpikir bahwa perhatian dan dukungan mereka adalah hal yang lumrah dan sudah sepatutnya saya mendapatkan perlakuan istimewa, sehingga saya merasa tidak perlu membuang waktu dan menghabiskan tenaga buat mereka. Jelas disini saya sebagai idola tidak dapat berbicara mengenai mengapa saya harus diidolakan, tanpa komunikasi dan membuka diri agar mereka ‘mengenal’ saya. Karena betapapun hebatnya saya, dan apa yang telah saya perbuat dan berikan bagi mereka, tetapi kalau mereka tidak tahu untuk apa saya berikan dan bagaimana saya membuatnya,
semua akan tidak ada artinya bagi mereka. Mereka harus mengenal saya yang adalah manusia juga yang mempunyai beban dan masalah hidupnya sendiri, sehingga mereka harus bisa mengetahui fondasi dasar dalam diri saya seperti apa saat ada ‘badai hidup‘, bagaimana gaya hidup saya yang sesungguhnya tanpa ada ‘kamera yang mengintai’ atau cara saya mencapai ‘puncak dunia’. Sampai mereka dapat ‘mengenal’ saya, maka saya patut untuk diidolakan dan kualitas kehidupan saya yang akan membedakan saya dengan idola yang lain.
Hezron Rheza Rondonuwu


COMMENTS

PINGBACKS

No Pingbacks

POST A COMMENT









 Follow this comment from email.

Copyright 2010 - Saya Magazine