
Bagi Roy Suryo, semakin banyak masyarakat yang tahu tentang IT maka kehidupan akan semakin baik. Ia kemudian bertekad agar teknologi bisa diterima dengan mudah, sederhana, dan bisa dinikmati oleh masyarakat. “Teknologi itu indah jika kita mau memberikannya juga ke masyarakat, ” ungkapnya.
Pria yang dulunya bernama Roy Suryo Udoro dikenal sebagai pakar Informasi dan Teknologi. Gelar yang disandangnya ini datang dari masyarakat. Mengalir dengan sendirinya.
Sebetulnya, gelar itu berawal dari hobinya mengutak-atik perangkat elektronik khususnya arus lemah seperti amplifier, radio, handy talky sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Bahkan saat SMP, pria kelahiran Jogya 18 Juli 1968 ini sudah membuat jaringan interkom dan soundsystem untuk sekolahnya. “Rakitan tangan saya itu masih berfungsi hingga sekarang,” ujarnya.
Saat di Sekolah Menengah Atas kreatifitasnya semakin menukik. Terbukti Roy menjadi Ketua Tim bidang fisika dan beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba karya ilmiah.
Saat akhir SMA Roy memutuskan untuk meneruskan kuliah di komunikasi dan bukan di bidang teknik. Alasannya? “Saat itu ada semacam dikotomi masyarakat yang membedakan jurusan exact dan sosial. Hal inilah yang mendorong saya banting stir mengambil jurusan sosial,” paparnya.
Tapi justru disitulah suami dari Ririen Suryo ini mendapat ilmu dan dunia lain. Yaitu bagaimana manusia bisa berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Dan bagaimana komunikasi di in plant dengan teknologi hingga menjadi bidang yang ia tekuni saat ini.
Beberapa hobi diseriusinya. Salah satunya fotografi. Roy pun tergabung dalam kepengurusan Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) sebagai wakil ketua. Hobinya yang lain adalah otomotif. Ikut raly dan merakit mobil juga digelutinya. “Dari hobi fotografi, elektronika, dan teknologi itulah yang mungkin membawa saya sampai sekarang.”
Teknologi saat ini memang sudah semakin canggih dan maju, dampaknya pada peradaban manusia sangat besar dan bisa menembus belahan dunia mana pun. “Teknologi sedikit banyak akan merubah pola hidup seseorang, baik sosial maupun psikologisnya. Seperti saat lebaran misalnya, dulu afdolnya kalau kita bersalaman. Kemudian muncul budaya mengirim ucapan memakai kartu. Berkembang lagi mengirim ucapan lewat SMS dan MMS. Awalnya memang kurang afdol, tapi lama-kelamaan karena kondisi dan situasi akhirnya menjadi kebiasaan dan membudaya,” papar Roy.

Namun, secara realistis dampak teknologi tidak selalu positif. Ada pula negatifnya. Menurut Roy, semua tergantung pada pemakainya. Contohnya Web Cam di internet. Tujuan dibuatnya bagus, yaitu untuk telewicara. Tapi, kita juga tak bisa menutup mata karena ada saja orang-orang yang memanfaatkannya untuk hal negatif.
Dengan melihat itu semua, Dosen Pasca Sarjana UGM dan Konsultan Teknologi Komunikasi (Multimedia) ini tak terpekur pada kenyataan. Menurutnya yang lebih penting dilakukan sekarang adalah bagaimana mengedukasi ke masyarakat agar teknologi bisa digunakan sebaik-baiknya.
Mengantisipasi penggunaan teknologi secara negatif tidak hanya dilakukan dari segi teknis. Tapi juga non teknis. Misalnya pembuatan rancangan undang-undang informasi yang rencananya akan disyahkan.Di situ semuanya akan jelas karena sudah ada peraturannya.
Demi mewujudkan tekadnya, ia bersama rekan-rekannya di bidang komunikasi mensosialisasikan ke beberapa tempat. Tidak hanya di sekolah, kampus, dan hotel tapi juga roadshow ke pesantren, gereja, vihara atau tempat strategis lain. Karena menurutnya, ilmu itu bukan milik satu golongan, agama, atau ras saja tapi milik semua orang.
Semakin banyak orang yang mengetahui teknologi, setidaknya masyakarat bisa melindungi diri sendiri. Sama halnya dengan naik kendaraan. Jika banyak orang yang tahu cara berkendaraan kondisi lalu lintas akan semakin teratur. “Sama dengan teknologi semakin banyak yang tahu akan saling mengingatkan.”
Di Indonesia kondisi masyarakatnya masih paternalistik. Artinya, masyarakat baru akan mengikuti jika pemimpin negaranya sudah melakukan. Melihat kondisi itu, Roy menemui Presiden Susilo Bambang Yudoyono, agar mempunyai website. Maksudnya, secara tidak langsung hal ini akan diikuti menteri kemudian ke tingkat dibawahnya dan akhirnya masyarakat luas akan mengikuti.
Yang dibuat Roy selama ini sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin membuat teknologi menjadi lebih mudah diterima masyarakat. Dengan banyaknya kejadian-kejadian yang ada sekarang, ia berusaha mengungkapkannya dari segi teknis tapi mudah diterima masyarakat. Saat seminar atau memberi kuliah misalnya, Roy membawakan presentasi dengan gaya bahasa yang mudah dan menarik.
“Karena masyarakat kita sebenarnya ingin mengetahui hal-hal berat tapi mereka tidak ingin mendapatkannya dengan berat. Kebenaran akan tetap saya sampaikan meski apapun resikonya. Tapi bukan menyederhanakan juga,” ucapnya.

Nama KRMT Roy Suryo Notodiprojo
Tempat tanggal lahir : Jogya, 18 Juli 1968
Pendidikan : Magister Perilaku dan Promosi, Program Pasca Sarjana UGM
Pekerjaan: Dosen Pasca Sarjana UGM dan Konsultan Teknologi Komunikasi (Multimedia)
Hobby : Fotografi, Elektronika, Komputer dan Otomotif
Prestasi
- Host/Pembawa Acara Edutainment “e-lifestyle’ di Metro TV (mulai 2001)
- Penerima Telset Telematika Award dari Menteri Perhubungan Agum Gumelar (2003)
Pengalaman Khusus
- Menganalisa Foto dan Klise Presiden Gus Dur & Ariyanti Boru Sitepu
- Saksi Ahli dalam berbagai perkara menyangkut Teknologi Komunikasi & Fotografi Digital (mulai 2003)
- Menganalisa Kasus Rekaman Porno Maria Eva dan Yahya Zaeni (2006)








