Di film The Fan (1996), Gil Renard (diperankan sangat bagus oleh Robert DeNiro) adalah seorang penggemar fanatik olahraga baseball. Dia mengidolakan Bobby Rayburn (Wesley Snipes), pemain dari klub San Fransisco Giants. Saking fanatiknya, Gil rela melakukan apa saja demi baseball dan pemain pujaannya, termasuk bolos dari kantornya hingga akhirnya dipecat dari pekerjaannya. Ketika kualitas permainan Bobby mulai menurun, Gil menimpakan kekesalannya pada Juan Primo, pemain saingan Bobby di klubnya. Tak hanya itu, Gil (yang memang memiliki kecenderungan kelainan jiwa) bahkan membunuh Juan, demi alasan sepele: “supaya Bobby bisa bermain bagus lagi”. Memang setelah itu sang pujaan kembali pada kualitas permainannya yang terbaik. Namun ketika Gil berhasil bertemu dan berkenalan dengan Bobby, ternyata sang idola itu dengan entengnya mengaku: baginya, kematian pemain saingannya itu tak berarti apa-apa.
Gil sangat kecewa, karena merasa telah banyak berjasa bagi Bobby tapi tidak dihargai dengan sepantasnya. Dia lalu menculik anak Bobby dan menyekapnya di sebuah stadion tua. Tapi dengan bantuan polisi, Gil berhasil dibekuk. Ketika sekarat akibat tembakan polisi, Gil tak kunjung bersedia mengatakan di mana dia menyekap anak Bobby. “A simple thank you would have been nice,” kata Gil mengajukan syarat. Dia hanya mau mengaku jika sang idola mau mengucapkan “terima kasih” kepadanya. Bahkan sebelumnya pun dia sudah pernah berulang kali meminta ucapan itu. Tentu saja Bobby menolak, karena dia tidak merasa berutang apa-apa pada penggemarnya yang sakit jiwa itu.
Saya tercenung ketika menonton film tersebut di televisi. Ada apa dengan ”terima kasih”? Sebegitu berharganyakah frase itu, hingga mampu mengubah segalanya? Rasanya wajar jika Bobby menolak mengucapkan kata ”terima kasih”. Ini kurang lebih sama dengan insiden Zinedine Zidane yang sengaja menanduk dada Marco Materazzi hingga terjatuh di partai final Piala Dunia 2006 kemarin. Kasus yang sedang diselidiki FIFA ini diduga terjadi karena Zidane tersinggung atas kata-kata Materazzi yang menghina saudara perempuan dan ibu Zidane. Atas tindakan kasar yang disaksikan miliaran orang melalui televisi itu, Zidane kemudian meminta maaf pada dunia. Tapi dia tidak menyesal, karena menurutnya, ”Jika saya menyesal, berarti saya mengakui dia berhak mengatakan hal itu.” Bisa jadi itu juga yang dirasakan Bobby di film The Fan tadi. Jika dia ”berterima kasih” pada Renard, itu berarti dia mengakui Renard telah berbuat sesuatu kebaikan padanya. Padahal tidak: bagaimanapun, membunuh seseorang dan menculik anak, jelas itu ”bukan perbuatan baik”. Bobby masih memegang standar nilai yang normal, bahwa ungkapan ”terima kasih” tidak pantas ditujukan untuk hal-hal negatif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “terima kasih” berarti “mengucap syukur, melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan”. Ada penekanan pada poin “kebaikan” di situ. Jika kita mencari arti ‘thank you’ atau ‘gratitude’ di Wikipedia, ensiklopedi di internet, maka kita akan mendapatkan definisi: “a positive emotion, which involves a feeling of emotional indebtedness towards another person; often accompanied by a desire to thank them, or to reciprocate for a favour they have done for you.” Lagi-lagi ada penekanan kata ”kebaikan”. Artinya, jelas ”terima kasih” merupakan satu ungkapan emosional yang positif, atas kebaikan (atau pertolongan) seseorang yang telah dia lakukan kepada kita. Adat Timur kita pun mengajarkan, setidaknya melalui orang tua kita sejak kita masih kanak-kanak, bahwa sekecil apa pun kebaikan itu, kita pantas mengucapkan terima kasih kepadanya. Bahkan kalau pun orang lain itu tidak merasa pernah menolong kita.
“a positive emotion, which involves a feeling of emotional indebtedness towards another person; often accompanied by a desire to thank them, or to reciprocate for a favour they have done for you.”

Seorang teman perempuan, susah payah menyelesaikan skripsinya, mengaku bahwa menulis Bab Ucapan Terima Kasih adalah hal paling menarik selama proses tugas akhir studinya itu. Setelah ucapan standar terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa (biasanya memakai istilah ”puji syukur”), juga kedua orang tua, lalu teman saya itu khusus menuliskan terima kasihnya kepada tukang-tukang ojek di sekitar kompleks rumahnya. Kenapa? Rupanya dia menganggap tukang ojek sudah sangat banyak berjasa. Tanpa mereka, mustahil dia bisa datang tepat waktu menghadap dosen pembimbing di kampusnya, yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Artinya, meskipun tukang ojek itu tidak merasa berbuat baik dengan mengantarkan penumpangnya (karena toh dia dibayar, bukan?), teman saya itu tetap merasa perlu mencantumkan jasa-jasanya di Bab Ucapan Terima Kasih.
Dari mulut teman saya itu pula meluncur satu cerita komik yang pernah dia baca, juga perihal ”terima kasih”. Alkisah, komik itu bercerita tentang seorang anak kecil yang nakal dan dianggap pecundang oleh semua orang di sekitarnya. Suatu saat, tanpa disadari dia menolong anak kecil lain yang sedang tersesat. Dia tunjukkan jalan pulang kepada anak kecil yang tidak dikenalnya itu, sambil memberikan topi miliknya. Si Anak Nakal itu lalu pergi, tapi kemudian mengintip Si Anak Tersesat tadi dari kejauhan, di balik sebuah pohon, sambil bertanya-tanya pada diri sendiri, ”Apakah berarti aku sudah berbuat baik?”—sebuah pertanyaan yang wajar dari seorang anak yang selalu dianggap pecundang.
Bertahun-tahun kemudian, si Anak Nakal itu tumbuh dewasa dan berkenalan dengan seseorang yang lalu menjadi teman baiknya. Ketika Si Anak Nakal itu berkunjung ke rumahnya, tercenung dia melihat topi yang pernah dikenalnya, ada di kamar temannya itu. Tercekat dia bertanya, ”Ini topi siapa?” Temannya itu menjawab, ”Oh, ini topi dari seseorang yang dulu pernah menolongku waktu kecil. Aku akan terus menyimpannya, karena aku takkan pernah bisa melupakan kebaikannya.” Si Anak Nakal pun menangis haru, ketika menyadari ada orang yang masih sangat menghargai kebaikan kecilnya, bertahun-tahun silam sampai sekarang. Ternyata, ungkapan ”terima kasih” memiliki kekuatannya sendiri. Komik, sebagai produk budaya pop, rupanya masih cukup peduli dengan tema-tema menyentuh seputar nilai-nilai mendasar tersebut.
Dalam produk budaya pop lainnya, ungkapan ”terima kasih” juga mendapat perhatian cukup penting. Di susunan acara sebuah ajang penghargaan, mulai dari Academy Award sampai Piala Citra, dari Grammy Award sampai Anugerah Musik Indonesia, seolah sudah menjadi harga mati: bahwa artis yang menang ”harus” maju ke depan menerima piala, lalu berbicara di podium menuturkan sederet ucapan terima kasih. Tak jarang mereka mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca, tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Di dunia perbukuan, hampir selalu kita jumpai halaman ucapan terima kasih yang cukup personal dari pengarang di lembar-lembar awal karya mereka. Penyanyi atau para personel band pun mencantumkan ucapan ”thanx to” di dalam sleeve kaset/CD musik mereka.
Bahkan tercatat ada beberapa album musik berjudul ”Thank You”, mulai dari album Duran Duran tahun 1995 sampai album Stone Temple Pilots tahun 2003. Jika Duran Duran memilih judul itu untuk album cover version mereka atas musisi-musisi yang telah mempengaruhi karier bermusik mereka, maka Stone Temple Pilots memilihnya untuk menamai album greatest hits mereka: mungkin semacam ungkapan terima kasih kepada para penggemarnya yang selama ini setia menikmati karya-karya mereka. Sementara Alanis Morissette, pada tahun 1998 menulis lagu ”Thank U” di album keduanya, setelah melakukan perjalanan spiritual ke India pasca kesuksesan album perdananya. Di tengah keletihannya atas dunia yang makin kacau balau, penyanyi kritis dan sinis asal Kanada itu menyertakan sederet ucapan terima kasih yang cukup aneh di lirik lagu tersebut, “Thank you India/ thank you terror/ thank you disillusionment/thank you frailty/ thank you consequence/ thank you thank you silence…”
Saya yakin, Anda yang sedang memegang dan membaca majalah ini bukanlah tipe Gil Renard yang sinting dan gemar melakukan kejahatan lalu menuntut balasan terima kasih. Dan kebetulan saya juga tidak sesinis Alanis Morissette. Untuk itu, SAYA mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya pada Anda semua, para pembaca. Dan jika beberapa tahun mendatang, entah dunia ini makin kacau atau tidak, mendapati majalah SAYA masih tersimpan rapi di rak buku Anda, adalah hal termanis yang pernah kami alami. Terima kasih.
- Yuki Tamaen -
BEST ARTICLES
COMMENTS
-
REPLY
diraworld / May 12, 2011 at 1:51am
barusan filmny di puter di bioskop transTV, aq aneh sebenerny knp si bobby koq ga mau ‘cuma’ ngucapi terima kasih doank. setelah baca artikel ini saya baru mengerti film tersebut.
great artikel! apalagi ditambah sedikit review dari komik yang berbudaya pop diatas.. sangat menyentuh~ ;(
kalau boleh tau judul komikny apa? kirim ke email sy yah… sblmny trmksh atas artikelny…








