Bebas Bekerja Tanpa Batas

Wrap around

Roger A.U. Jung

April 2, 2006  /  saya  /    0

Roger A.U. Jung

Awalnya Roger A.U Jung, hanya datang sebagai konsultan di bidang telekomunikasi, namun belakangan karena melihat ketidakadilan pada perempuan di lingkungannya, ayah dari Ticiane dan suami dari Lisa ini juga serius membantu masalah perempuan.

Pria yang lahir di Swiss, 62 tahun lalu ini, datang ke Indonesia tepatnya di Makassar pada Juni 1991 sebagai konsultan di Politeknik Negeri Makassar Jurusan Telekomunikasi. Sebagai utusan dari Swiss Contact, salah satu NGO di Swiss, beliau bertugas memberi ide dan nasehat pada dosen-dosen seputar Telekomunikasi.
Pria berkacamata dan tak pernah lepas dari handuknya ini lantas menjadi betah tinggal di Makassar. Pada 1991-1993, ia menetap di Makassar dan setelah itu hampir 2 kali dalam setahun ia bolak-balik Indonesia-Swiss. Bahkan, kini setelah ia pensiun sebagai kepala High Frequency di EICN Le Locle di negaranya, ia memilih menetap di Makassar. Tetap aktif membagi ilmunya pada dosen dan mahasiswa di Politeknik Negeri Makassar Jurusan Telekomunikasi serta tetap konsen membantu perempuan.

Roger A.U. Jung
Ketertarikannya pada masalah perempuan dimulai dari para mahasiswinya di Politeknik. Menurutnya, mahasiswa mendapat kesempatan kerja lebih mudah daripada mahasiswi. Apalagi bagi mahasiswa yang mendapat nilai bagus. Sementara mahasiswi, meskipun mereka pintar atau mendapat nilai bagus tetap tidak mendapatkan tempat kerja yang sesuai dengan bidangnya atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan pekerjaan.
Dan biasanya satu atau dua tahun setelah lulus para mahasiswi memilih untuk menikah dan kemudian memiliki anak. “Saya berpikir ini tidak produktif dan tidak efektif jika Swiss Contact membangun Politeknik, membeli material laboratorium, membayar dosen dan lainnya,” ujar Pak Jung. Karena ketidakefektifan itu Pak Jung menganggap proyek ini gagal.
Tak hanya mahasiswinya, ia juga mengamati dan mendekati beberapa perempuan yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya, meskipun para perempuan itu mempunyai intelligentsia yang tinggi tapi karena miskin mereka tidak bisa meneruskan ke tingkat perguruan tinggi.

Meskipun sebenarnya Pak Jung tidak suka diekspos mengenai hal ini, tapi pada kenyataannya dengan dana pribadinya –setelah tidak ada lagi dana dari Pemerintah Swiss- ia tetap membantu beberapa perempuan tersebut untuk kuliah sehingga
mereka tidak bergantung pada keluarganya untuk nantinya bisa mandiri. “Saya berpikir bagaimana jika kondisi ini terus berlanjut? Bagaimana dengan generasi-generasi selanjutnya jika tidak ada peningkatan pendidikan? Seharusnya, perempuan itu bisa lebih kreatif dan jangan hanya bergelut dengan urusan rumah tangga saja,” ungkapnya.
Kondisi semakin parah dengan adat dan budaya di sini, membuat posisi laki-laki seperti raja dan perempuan seperti pembantu. Perempuan di sini cenderung tidak percaya diri, mereka selalu terbentur dengan kata ‘hanya perempuan’. Yang lebih jauh lagi, mereka juga tidak tahu apa itu ‘perempuan’. Ibu mereka pun tidak menjelaskan pada anak perempuan mereka, bukan hanya soal seks atau genderjuga tugas perempuan dalam masyarakat. Banyak anak perempuan memasuki masa dewasa yang mengetahui tentang dirinya bukan dari orang tua mereka, tapi mencari tahu sendiri misalnya lewat blue film dan tentu saja itu tidak baik buat mereka.
Soal lain yang menurut Pak Jung lucu tapi di sini tampak dramatis adalah soal menstruasi. Mereka menganggap sebagai suatu gangguan atau bahkan ada yang menganggap sebagai kutukan Tuhan karena mereka ‘hanya perempuan’. “Saya kemudian menjelaskan pada mereka bahwa itu adalah kodrat, anugrah wanita dari Tuhan. Dengan itu perempuan bisa lebih dari laki-laki, selama mereka bisa menstruasi mereka bisa membuat generasi selanjutnya. Dan tidak ada yang bisa melakukan ini kecuali perempuan, yaitu hamil dan melahirkan,” paparnya.

Roger A.U. Jung

Pusat Studi Wanita (PSW)
Tahun 1998, Pak Jung membentuk Pusat Studi Wanita (PSW) di Politeknik Negeri Makassar. Di situ mahasiswi bisa membaca tanpa rasa kikuk. Buku-buku yang tersedia tak hanya soal seks tapi juga soal sosial, estetika, atau biologis. Juga bisa berkonsultasi seputar masalah perempuan. Namun tahun belakangan karena biaya dari sponsor berkurang, tidak ada lagi konsultan khusus. Namun perpustakaan dan komputer yang ada masih bisa dipergunakan.
Stigma negatif tentang Pak Jung memang sulit dihapuskan, usianya yang 3 kali lebih tua dari para mahasiswi, berasal  dari budaya berbeda,   berkulit putih serta orang bule tidak membuat para mahasiswi takut, mereka justru datang kepadanya untuk berkonsultasi jika mempunyai masalah. Masalah yang mereka kemukakan biasanya mengenai hal-hal dasar tentang kehidupan perempuan.
Di lingkup sebuah keluarga, menurut Pak Jung peran dan tanggung jawab perempuan sangat banyak. Dimulai dari masa puber, perempuan sudah mendapat menstruasi setiap bulan yang kadang menganggu aktivitas mereka. Kemudian hamil selama 9 bulan 10 hari, melahirkan yang terkadang menyakitkan, menyusui, mengendong, merawat, serta memberikan pendidikan dasar kepada anak. Dan jika ia punya 5 orang anak saja, maka hal itu akan diulangi selama 5 kali.
Selanjutnya saat menjadi nenek, tugas menjaga dan merawat cucu juga masih menjadi tanggungjawab mereka. “Ironisnya di sini hal seperti itu dianggap biasa. Perempuan dianggap normal kalau dia bisa hamil dan kalau tidak dianggap abnormal,” tambahnya.
Demi tugas mulianya ini, Pak Jung punya keinginan tinggal untuk waktu yang lama di sini, namun sejak setahun terakhir, visanya dipersulit dan dia tidak tahu penyebab pastinya.  Tapi ia tidak terlalu perduli dengan hal itu, tugas mulia tetap dijalankan. Ia juga tak segan-segan membawa perempuan yang sakit karena masalah reproduksinya ke dokter atau rumah sakit. Menerangkan fungsi tampon yang lebih praktis dibandingkan pembalut wanita. Membagikan kondom pada Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan harapan PSK tersebut tidak tertular Penyakit Menular Seksual (MS) dan istri dari para pelanggan juga tidak terinfeksi PMS.
Setelah lebih 10 tahun berada di Indonesia Pak Jung melihat cukup ada perubahan yang ia lihat dari perempuan di sini. “Dulu, perempuan yang masuk di Telekomunikasi Politeknik sekitar 20% dan laki-laki 80% namun kini perempuan mencapai 60% dan laki-laki 40%,” urainya. Tapi ia juga menilai ada beberapa perempuan yang kuliah hanya untuk mendapat tingkat sosial bukan karena keinginan untuk maju.
Memang posisi perempuan saat ini belum cukup baik di sini, namun ke depan Pak Jung sangat berharap posisi laki-laki dan perempuan bukan lagi seperti  raja dan pembantu tapi sebagai partner -persamaan peranan dalam rumah tangga-. Ia juga ingin tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga baik pada istri maupun anak. “Saya ingin perempuan saat akan menikah bisa melakukan semacam perjanjian, bahwa setelah menikah ia tetap bisa kuliah dan bekerja dengan didukung suami,” ungkapnya.
Hal lain yang diharapkan, perempuan di sini bisa lebih kreatif seperti di negara maju lain. Intinya apapun yang diinginkan harus dilakukan dan dicapai. “Mengapa harus direm?” Ucapnya. Tak hanya itu Pak Jung ingin  menjadi perempuan harus lebih percaya diri dan jangan merasa kurang dari laki-laki.

Roger A.U. Jung

Foto dan Teks: Sri Rahayu


COMMENTS

PINGBACKS

No Pingbacks

POST A COMMENT









 Follow this comment from email.

Copyright 2010 - Saya Magazine