Jakarta, ‘the city never sleep’, kota metropolitan yang tidak pernah tidur. Sejak matahari menapakkan cahayanya di permukaan kota Jakarta, kaki-kaki manusia di dalamnya selalu bergerak setiap saat, hingga mentari capek dan harus beristirahat. Matahari mengenal kata ‘istirahat’, tetapi tidak demikian dengan orang-orang Jakarta. Pada pagi dini hari, orang-orang sudah mulai keluar rumah menuju tempat kerjanya masing-masing. Sore hari, menjelang malam, semua orang mulai kembali bergerak keluar kantor ataupun kampus. Ada yang langsung pulang ke rumah, namun tidak sedikit orang-oramg yang mencari tempat perhentian untuk sekadar makan malam, bertemu dengan teman ataupun clubbing di tempat yang mengasyikan. Seperti kota yang tidak pernah tidur, seperti itu pulalah warganya, tidak pernah berhenti beraktivitas, 24 jam non-stop.
Anna, mahasiswa dengan jadwal kuliah yang sangat padat dari pagi hingga sore hari, masih selalu memiliki waktunya untuk pergi ke acara ladies night setiap hari rabu di sebuah café. Tidak jauh berbeda dengan Benny, karyawan swasta sebuah perusahaan minyak ini pun demikian. Jadwal kerja pukul 9.00 – 17.00, kadang harus lembur, tidak membuatnya melupakan atau melewatkan acara-acara yang dimulai 10 pm onwards.. Baik Anna maupun Benny tidak pernah merasa lelah mengikuti gerak arus 10 pm onwards di metropolitan, meskipun acara-acara tersebut tidak selalu diadakan pada akhir minggu.
Anna dan Benny adalah representasi dari warga Jakarta yang ‘bergaya hidup’ 10 pm onwards. Sebagai warga Jakarta yang telah mengamati pola atau gaya hidup demikian, saya berusaha untuk ‘menemukan’ alasan mereka ‘keranjingan’ melakukan aktivitas 10 pm onwards, tidak peduli kegiatan tersebut dilakukan bukan pada hari-hari libur atau akhir minggu. Dari hasil pengamatan tersebut, saya menemukan beragam alasan. Ada yang sekedar bertemu teman atau clubbing. Ada yang sekedar ingin refreshing setelah bekerja. Sampai kepada mereka yang ingin membentuk komuunitas baru guna memperluas jaringan ‘network’. Rata-rata mereka menganggap bahwa inilah gaya hidup metropolitan. Benarkah ‘ini’ yang dikatakan gaya hidup? Bagaimana dengan gaya hidup warga yang tidak menetap di kota yang tidak sesibuk Jakarta?
Dalam suatu kesempatan saya mengunjungi sebuah desa di wilayah Purwokerto, 10 pm onwards.. suasana hening sudah terasa,seluruh warga usia produktif beranjak ke peraduan untuk beristirahat. Mereka lebih memilih mengumpulkan tenaga untuk aktivitas esok hari. Di sinilah letak perbedaannya. Warga metropolitan Jakarta dan warga desa sama-sama memiliki gaya hidup, tetapi dalam interpretasi yang berbeda. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan gaya hidup? Bagaimana proses terbentuknya gaya hidup dalam diri seseorang?
Menurut sebuah artikel yang saya temukan ketika browsing di internet, dituliskan bahwa gaya hidup adalah salah satu sikap yang dipakai oleh seseorang ketika ia mau tampil layak dan aktual di hadapan orang lain. Sikap inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku dan membentuk suatu kebiasaan. Kalimat ‘layak dan aktual di hadapan orang lain’ mengandung arti bahwa gaya hidup sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita berada. Oleh karena itu, sangatlah mungkin apabila seseorang ingin diterima dalam kelompok masyarakat tertentu, maka ia akan berusaha keras untuk memiliki gaya hidup yang sama dengan kelompok tersebut. Padahal seharusnya gaya hidup tidaklah semata-mata hanya dipengaruhi oleh lingkungan kita. Gaya hidup sebaiknya terbentuk dari berbagai macam pengolahan sikap kita dalam menghayati hidup, yang disertai dengan pertimbangan-pertimbangan mengenai berbagai macam aspek, seperti tingkat pendidikan, keadaan sosial (strata) di masyarakat serta cita-cita ke depan mengenai makna atau arti hidup. Misalnya sebagai mahasiswa yang berasal dari golongan sosial ekonomi menengah dan ingin tampil modern, gaya dan gaul, namun terkesan pintar dan cerdas.
Ada tiga macam pengolahan sikap yang dapat membentuk gaya hidup seseorang, yaitu sikap seleksi, adaptasi, dan imitasi. Sikap seleksi dilakukan oleh orang yang sudah mengenal dirinya dan memiliki pendirian dalam menghadapi arus trend yang ada. Ia hanya memilih hal yang baik dan ia anggap cocok dengan dirinya. Misalnya, apabila ia merasa bahwa beraktivitas pada malam hari dapat merusak kesehatannya, maka meskipun trend di lingkungan menawarkan hal tersebut, ia tidak akan mengikutinya. Sikap adaptasi dilakukan oleh orang yang terus menerus melakukan penyesuaian diri terhadap tawaran ide atau trend dari lingkungan. Namun, penyesuaian diri tersebut disesuaikan dengan kondisi dirinya, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budayanya. Misalnya, trend di lingkungan menawarkan untuk hang out setiap malam, tetapi karena ia merasa kondisi keuangannya tidak mencukupi maka ia akan hang out di akhir minggu saja. Sedangkan sikap imitasi merupakan sikap yang dimiliki oleh orang yang cenderung meniru secara total terhadap berbagai macam hal yang ia anggap trend dalam lingkungannya, baik mode, gaya rambut, makanan, maupun gaya hidup. Biasanya, orang seperti ini cenderung tidak memiliki pendirian dan tidak mengenal dirinya?apa yang ia terbaik bagi dirinya. Misalnya, apabila trend di lingkungannya menawarkan untuk hang out setiap malam, maka tanpa berpikir panjang ia akan mengikutinya. Baginya yang penting adalah tidak ketinggalan trend dan komunitas.
Melihat definisi dan proses terbentuknya gaya hidup seseorang, nampaknya kebiasaan beraktivitas 10 pm onwards sudah menjadi gaya hidup masyarakat di kota besar. Apakah Anda termasuk dalam kelompok tersebut? Jika ya, cobalah Anda berdiam diri sejenak dan melakukan introspeksi diri. Proses apakah yang mendorong Anda untuk membentuk gaya hidup 10 pm onwards ?
.
Pusat Pendidikan dan Pengembangan Psikologi
Ph : 0815.894.6059
Fx : 021-7369.2581
Email : jejak-kaki@hotmail.com









