Menjadi seorang Perempuan dan ethnis Tionghoa di Indonesia memang tidaklah mudah, tetapi tidak untuk Christine yang menjunjung tinggi pluralitas dan kesejahteraan sesama, sebagai kontribusi untuk negaranya, Indonesia.
S: Apakah CSIS itu?
C: Centre for Strategic and International Studies (CSIS) adalah sebuah lembaga penelitian independen, (dikenal dengan sebutan think-tank), seputar kebijakan publik. CSIS aktif dalam proses rekomendasi kebijakan dan public education melalui seminar publik. Lembaga yang terbentuk sejak 1971 ini memiliki 3 departemen (Ekonomi, Hubungan Internasional dan Politik dan Perubahan Sosial). Perpustakaan CSIS adalah salah perpustakaan terbaik di Indonesia dan juga Asia Tenggara. (Lihat www.csic.or.id)
S: Selain CSIS, Christine aktif di mana saja?
C: Secara formal, tidak ada afiliasi lain. Tapi secara informal, aktif sebagai relawan di Institut Pluralisme Indonesia (IPI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Selain itu, juga terlibat antara lain di: Koalisi Kebijakan Partisipatif (KKP) yang mengadvokasi proses kebijakan, Komisi Darurat Kemanusiaan (KDK) yang mengawasi proses rekonstruksi Aceh; Jaringan Menentang Penyiksaan yang memonitor tindakan kekerasan oleh aparat pemerintah (dipayungi oleh Asian Human Rights Commission yang berkantor di Hongkong); Gerakan Perempuan Peduli Indonesia yang dimotori oleh LSM perempuan dan politisi perempuan di Parlemen, DPD maupun lembaga pemerintahan lain.
S: Apa yang paling urgent untuk dilakukan pemerintah agar etnis Tionghoa bisa merasa menjadi bagian dari Indonesia? (SKBRI, misalnya sudah tidak berlaku lagi tetapi sampai sekarang setiap anak yang mau sekolah kadang-kadang harus melampirkan SKBRI ini. Di Jakarta saja orang Tionghoa sering dipersulit untuk memiliki KTP).
C: Pemerintah sebenarnya bisa secara tegas mengeluarkan aturan yang menjatuhkan sanksi tindak pidana korupsi kepada pegawai negeri yang masih meminta SBKRI. Kemudian menghidupkan mekanisme pengaduan masyarakat yang efektif bekerja sama dengan jajaran Polisi dan Kejaksaan. Selain itu, RUU Kewarganegaraan, RUU Hubungan Antar Etnis, dll dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2005-2009 bisa menjadi entry points. UU No. 10/2004 sudah menjamin partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan pembuatan kebijakan. Pemerintah harus terbuka dan transparan dalam mendorong partisipasi komunitas Tionghoa dalam proses pembuatan kebijakan ini. Komunitas Tionghoa sendiri tentunya harus proaktif juga.Tapi yang paling penting, dalam menjalankan semua ini, pemerintah harus bisa juga mendorong partisipasi komunitas Tionghoa, bukan karena mereka Tionghoa [ATM], tapi karena mereka adalah warganegara Republik Indonesia. Partisipasi Tionghoa harus menjadi salah satu bagian yang memperkaya partisipasi masyarakat pada umumnya.
S: Diskriminasi terhadap kelompok minoritas sudah sering kita dengar terjadi di Indonesia. Apa yang bisa Christine lakukan sekarang dengan kapasitas Christine sejauh ini? (mungkin lewat tulisan-tulisan yang lebih provokatif? Kapan terakhir tulisan Christine dimuat di media massa?)
C: Yang relatif lebih “cepat” memang membuat tulisan di media massa. Tulisan tentang kelompok minoritas yang terakhir itu bulan Februari tentang keterlibatan komunitas Tionghoa dalam kegiatan kemanusiaan di Aceh.
Selain itu, dengan “hadir” dalam kegiatan masyarakat sipil terkadang bisa memberikan arti tersendiri. Saya ingat saat-saat awal mengikuti pertemuan jaringan, sering kali saya satu-satunya Tionghoa dan orang-orang akan memandangi saya dengan pandangan yang … [gimana gitu]. Awalnya agak canggung dan khawatir juga, tapi kemudian akan ada orang yang datang dan mengatakan dengan simpatik bahwa memang selama ini belum/jarang sekali ada Tionghoa yang aktif, sehingga kehadiran saya memberikan warna baru dan diharapkan lebih banyak lagi Tionghoa bisa aktif. Dukungan moril seperti itu membuat saya semakin ingin aktif.
S: Sejauh mana Christine berbaur untuk menunjukkan Christine mengadopsi nilai-nilai pluralitas, anti diskriminasi dan menjadi Indonesia saja (sesuai tema yang mau menekankan pada Indonesia sebagai satu bangsa bukan sekedar nama negara)?.
C: Kata ”saja” dalam frase ”menjadi Indonesia saja” itu, menurut saya, berkesan membatasi. ”Menjadi Indonesia” adalah totalitas menjadi WNI, menjadi Tionghoa, perempuan, Katolik, orang Jakarta, menjadi bagian dariASEAN, dari dunia, menjadi manusia, menjadi peneliti, dan lainnya yang terus berkembang hingga saya tutup usia. Secara pribadi setidaknya saya berusaha menjalin hubungan baik dengan orang lain tanpa harus merasa tidak nyaman sebagai Tionghoa atau perempuan atau identitas saya lainnya. Saya ingin orang melihat saya memajang kaligrafi Tiongkok dan ornamen budaya Tionghoa di kantor, tapi juga mengingat pekerjaan saya di Banda Aceh dalam membantu advokasi partisipasi dan transparansi masyarakat dalam proses rekonstruksi, misalnya. Saya ingin orang melihat saya suka memakai cheongsam, tapi juga melihat kerja saya melalui program penelitian di Papua untuk mendorong terbentuknya Majelis Rakyat Papua dan good governance. Ini adalah bukti kekuatan keberagaman Indonesia. Orang Aceh atau Papua melihat seorang Tionghoa mencoba membantu proses sosial politik di Aceh atau Papua, atau sebaliknya dengan harapan bahwa kita bisa hidup bersama lebih baik dalam sebuah ”Indonesia”. Menurut saya, itu akan membantu mengikis stereotip etnis yang ada selama ini. Sayangnya, seringkali orang hanya melihat tampilan fisik dan stereotip, tanpa mencoba memahami niat baik dan karya-bakti yang sudah/sedang dilakukan.
S: Rencana jangka pendek Christine untuk Indonesia apa saja? Bagaimana cara untuk mencapainya?
C: Saya ingin menjadi bagian dari masyarakat sipil yang menopang demokrasi, melalui interaksi dengan koalisi-koalisi yang berorientasi penelitian sambil advokasi kebijakan publik. Di saat yang sama, saya ingin ikut membangun proses pendidikan politik untuk generasi muda Tionghoa agar bisa lebih kritis tentang “menjadi Indonesia” yang plural dan lebih efektif dalam berpartisipasi, entah melalui pemikiran/riset maupun keikutsertaan dalam partai maupun masyarakat sipil.
S: Buku favorit Chirstine apa?
C: Hmm… Salah satu yang paling berkesan adalah “To Kill a Mockingbird” oleh Harper Lee (1962) yang menarasikan situasi rasialisme di Alabama di Amerika bagian Selatan, dari kacamata 2 kakak-adik berumur 8 (Scout) dan 9 tahun(Jem). Ayah mereka adalah pengacara yang bertugas membela tersangka berkulit hitam yang dituduh memperkosa perempuan kulit putih. Kekontrasan antara kepolosan anak-anak itu, kekejaman rasialisme di sekeliling mereka, dan bagaimana tugas ayahnya mempengaruhi kehidupan mereka dengan tetangga berkulit putih dan hitam, sangat menyentuh sekali. Saya juga suka banget “Da Vinci Code” oleh Dan Brown dan “Anak Segala Bangsa” oleh Pramoedya Ananta Toer.
S: Makanan favorit Christine?
C: Nasi Goreng Ikan Asin, Burung Dara Goreng, Kepiting telur bumbu lada hitam, Makassar seafood, Pasta with Pesto Sauce, Garlic Nan with Sag Paneer (spinach & cottage cheese), Roast Duck plus Phitan Porridge, Tom Yam Gong, Pita bread with mix dips (hummus and eggplant/beetroot flavoured yoghurt dip). Nyam nyam (saya memang agak rakus..hehe). Saya juga penggemar wine (red, mostly).
S: Tempat liburan favorit di Indonesia?
C: Wilayah Indonesia (luar Jawa) yang pernah saya kunjungi baru Bali, Lampung, Pontianak, Singkawang, Jayapura, terakhir ke Medan dan Banda Aceh. Semua wilayah tersebut sangat menarik dan bentuk nyata keberagaman Indonesia. Saya berharap bisa ke wilayah lain seiring dengan kegiatan penelitian.
Saat ini, saya ingin kembali ke Aceh. Aceh menjadi favorit, karena begitu banyak emosi yang bergelut saat memikirkan wilayah paling Barat Indonesia yang begitu kontroversial ini. Di satu sisi, daya tahan masyarakat Aceh sangat memberikan inspirasi. Saat melewati Mesjid Baiturrahman dengan becak motor, saya tersentuh sekali dengan cara pengendara becak motor itu bercerita tentang pengalaman tsunami dan mengundang saya mengunjungi Baiturrahman. Di sisi lain, begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan di berbagai aspek dan banyak potensi konflik. Saya ingin kembali untuk membantu, melalui program penelitian yang memonitor proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh bersama kawan-kawan di Aceh (baik yang dari Aceh, Jakarta, Yogya maupun luar negeri).
S: Kegiatan kalau hari libur?
C: Nomor satu, tidur sampai siang, karena sering kurang tidur selama hari kerja. Atau nonton DVD (cinta banget CSI Las Vegas, Smallville, dll). Kadang, just hang out with friends. Main bilyar untuk saya itu untuk menghilangkan stress (asal tempatnya bersih, nyaman dan tidak terlalu mahal) dan pergi ke toko buku bermutu (Saya kangen toko buku bekas yang banyak di Australia – murah dan mutu). Saya juga suka nonton dan makan. Kadang kalo udah mumet dengan Jakarta, saya suka ke pegunungan yang berhawa dingin.
S: Describe yourself in 5 words?
C: Pluralist, energetic, communicative, fast-learner, maverick
plus wine-and-dine-junkie











