Bebas Bekerja Tanpa Batas

Something to think about

All the beginnings are difficult

June 2, 2005  /  saya  /    0

start to change

Dulu waktu saya masih di SMA (dulu sekali saat SMA belum menjadi SMU) dalam mata pelajaran fisika, dengan menggunakan suatu rumus guru saya menunjukkan bahwa bila suatu benda akan digerakkan dari diam membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan bila kita menggerakkan suatu benda yang sudah bergerak. Contoh nyata dari rumus di atas: kalau kita mendorong mobil, diperlukan energi yang lebih besar untuk menggerakkannya pertama kali, tetapi kalau sudah mulai meluncur maka dibutuhkan sedikit energi untuk mendorong mobil itu.  Lalu guru saya menambahkan bahwa  ternyata rumus fisika ini juga berlaku bagi kalau kita ingin memulai sesuatu, awalnya sulit sekali tetapi kalau sudah dimulai maka lebih mudah  menjalankannya. Benarkah?
Kalau kita bicara dalam konteks pengalaman sehari-hari, memang memulai sesuatu khususnya suatu kebiasaan baru tidaklah mudah.  Kita memang tahu dan paham bahwa beberapa kebiasaan kita buruk dan harus diubah. Misalnya kalau kita ingin menurunkan berat badan maka kita harus mengubah pola makan dan mulai olah raga. Walaupun mungkin kita ingin sekali, tetapi yang lebih sering terjadi ialah kita mengubah kebiasaan makan dan olah raga kita selama beberapa saat tetapi akhirnya kembali ke kebiasaan lama.  Selesai training (terutama yang bicara tentang soft skills seperti kepemimpinan, manajemen waktu dsb) , kita terinspirasi untuk membuat perubahan di lingkungan kerja kita. Tetapi untuk mempertahankan ide dan perilaku baru dari sebuah training memang tidaklah mudah.  Di kantor  mungkin kita terbiasa bekerja menunda pekerjaan dan harus tergesa-gesa mengejar tenggat waktu proyek . Kita berjanji bahwa kita tidak akan menunda pekerjaan . Sekali lagi, ternyata mempertahankan niat tidak mudah dan lebih mudah untuk tenggelam dalam kebiasaan yang sudah kita lakukan sehar-hari.
Banyak orang berpendapat bahwa cukup dengan niat maka kita bisa mengganti suatu kebiasaan.  Teman saya ketika bercerita tentang iparnya yang sulit menghentikan kecanduan terhadap heroin , berkomentar bahwa “Ah dia aja yang ngga niat, kalau niat pasti bisa berhenti sendiri .”  Pandangan seperti ini seringkali memancing orang untuk menggurui orang lain untuk berubah.  Terlepas dari hal itu, berbagai studi menemukan bahwa ternyata niat (atau dalam bahasa teknis lebih sering disebut motivasi) tidaklah cukup untuk memulai dan mengganti suatu kebiasaan. Yang lebih sering terjadi ialah, kalau kita hanya bermodalkan niat saja maka kebiasaan itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali ke kebiasaan sebelumnya. Jadi bagaimana caranya kita berubah dan mempertahankan perubahan tersbut?

Berdasarkan berbagai penelitian, Miller dan Rollnick menciptakan suatu tehnik terapi yang bisa memfasilitasi suatu perubahan.  Pada awalnya, teknik ini (yang disebut motivational interviewing) digunakan dalam konteks penanganan pengguna narkoba.  Ternyata  therapy ini juga bisa digunakan dalam berbagai konteks untuk memfasilitasi dan mempertahankan perubahan.  Menurut Miller dan Rollnick, setidaknya dibutuhkan tiga hal untuk memulai suatu  perubahan kebiasaan yaitu :
•    Kesediaan
Kita dapat memandang kesediaan ini (willingness) sebagai suatu perbedaan antara status dan tujuan ; antara suatu keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang dialami sekarang.   Selama keadaan sekarang dianggap masih bisa ditolerir maka kita tidak tergerak untuk berubah.  Kuncinya ialah nilai yang diyakini sebagai hal yang penting bagi orang tersebut.  Bila perbedaan ini terjadi dirasakan berkaitan dengan nilai yang diyakini, maka orang tersebut baru akan tergerak untuk berubah. Misalnya: Seorang ayah -yang juga seorang pecandu rokok- menghentikan kecanduannya karena anaknya (yang masih berusia 7 tahun) terlihat sedih setiap kali melihat ayahnya menghisap rokok. Anak itu berpikir bahwa ayahnya akan cepat meninggal kalau terus merokok. Karena nilai keluarga merupakan hal yang penting bagi si ayah, maka ia mulai menghentikan kecanduannya.
•    Merasa mampu
Perubahan baru dimulai kalau orang tersebut merasa mampu untuk melakukan perubahan. Selama perubahan tersebut dianggap tidak mungkin terjadi, maka orang tersebut akan bersikap pasif saja walaupun ia menginginkan perubahan.  Untuk menghadapi frustrasi akibat kesenjangan antara keinginan dan keadaan maka ia akan menggunakan cara-cara defensive misalnya :  penyangkalan (‘sebenarnya sih tidak seburuk itu keadaannya),  rasionalisasi (“Yah.. saya sebenarnya memang tidak seingin itu.”), dan proyeksi (“ Itu bukan masalah saya.. Merekalah yang bermasalah).
•    Siap untuk berubah
Ternyata kedua hal di atas masih belum cukup dalam memulai suatu perubahan.  Kapan perubahan dimulai tergantung dari kesiapan atau lebih tepatnya ketika orang tersebut mulai memutuskan untuk memprioritaskan dirinya untuk mulai berubah.   Jadi selama seseorang berkata “Itu penting sih tetapi ini dan itu tidak bisa ditinggalkan “ atau  “Saya mau berubah besok atau kalau ….. terjadi.” Kemungkinan ini merupakan tanda-tanda bahwa orang tersebut belum menjadikan perubahan sebagai suatu prioritas.
Apa yang bisa kita simpulkan? Kalau kita mau memulai suatu perubahan tidaklah cukup dengan pengetahuan mengapa kita harus berubah. Tidak juga cukup dengan sekedar memproklamirkan niat perubahan.  Ternyata dibutuhkan juga prioritas, kepercayaan diri dan ‘panggilan’ untuk berubah yang sesuai dengan nilai yang kita anut.
Kalau suatu perubahan sudah terjadi ,terdapat beberapa tips  untuk mempertahankan perubahan ini :
•    Kepercayaan diri bahwa kita bisa berubah.  (Self efficacy)
Cobalah jaga kepercayaan diri kita dengan membuat target-target yang lebih realistis, dan berjenjang. Misalnya:  Kalau kita ingin memulai kebiasaan membaca setiap hari maka fokuskan pada usaha untuk berhasil membaca ½ bab setidaknya hari ini .
•    Kurangi stimulus yang menggoda
Stimulus berupa benda-benda, tempat dan lingkungan pergaulan tertentu bisa menjadi godaan yang sulit ditolak sehingga kebiasaan lama gagal. Misalnya: Kalau anda berniat mulai diet, kurangi waktu nongkrong di kantin atau café.
•    Cari teman ‘senasib’ dan pendukung.
Berjuang sendirian memang tidak mudah, tetapi kalau kita memiliki teman maka kita bisa saling mendukung dan mengingatkan.  Kalau anda berniat rajin berolahraga,  ajaklah pasangan atau beberapa teman untuk ikut berolahraga. Dengan cara ini, kita lebih segan kalau kita mengingkari appointment untuk berolahraga. Bergaullah dengan orang-orang yang bisa memberi dukungan, mengapresiasi usaha yang kita lakukan untuk berubah.
•    Mengganti respons
Seringkali suatu kebiasaan sulit dilawan karena kita sudah menjalaninya dengan ‘otomatis’. Kalau A maka harus B responsnya. Padahal, kalau kita rubah responsnya maka kebiasaan buruk ini bisa diubah dengan hal yang lebih positif. Kalau kita lakukan dengan konsisten maka kita membentuk kebiasaan baru. Misalnya daripada kalau dulu setiap kali ingin ‘ngemil’  kita makan gorengan, lebih baik diganti saja dengan buah-buahan  yang lebih sehat.
•    Rayakan keberhasilan
Keberhasilan-keberhasilan dari pencapaian target akan lebih berarti dan menyenangkan kalau kita rayakan.  Seolah-olah kita memberikan ‘bonus’ atas perubahan kebiasaan itu. Tentu saja, jangan sampai perayaan ini counter-productive terhadap target yang kita capai.  Misalnya: Kalau kita ingin berhemat, dan berhasil berhemat. Jangan rayakan dengan membeli perhiasan mahal atau handphone baru. Carilah kegiatan yang menyenangkan tetapi masih tetap hemat.
Jadi  silahkan mencoba untuk berubah. Apapun itu – anda ingin lebih hemat, menurunkan berat badan, mulai olah raga,  atau rajin beribadah; tidaklah mudah. Masalahnya kita memang nyaman dengan hal-hal yang sudah kita kenal dan akrab. Sehingga butuh usaha dan keberanian untuk berubah. Jadi sabarlah terhadap diri sendiri ( dan orang lain) yang sedang berubah. Selamat mencoba.

Sidharta Tedja,

16 Mei 2005

Eliminate something superfluous from your life. Break a habit. Do something that makes you feel insecure.

Piero Ferrucci  (penulis & psikolog di itali)


COMMENTS

PINGBACKS

No Pingbacks

POST A COMMENT









 Follow this comment from email.

Copyright 2010 - Saya Magazine